Monday, 29 June 2015

“Als lk een Nederlander”*

Leave a Comment
Oleh: R Fikri Abdillah**



"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".
-Ki Hajar Dewantara-

            Hari Pendidikan Nasional atau biasa kita singkat dengan Hardiknas, ada yang menyingkat dengan Harpenas adalah hari dimana Bangsa Indonesia memperingati setiap tahunnya pada tanggal 2 Mei berkaitan dengan sistem pendidikannya.
            Tanggal 2 Mei dipilih oleh pemerintah Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional tidak dengan alasan kosong. Tanggal 2 Mei dijadikan sebagai hari untuk mengingat dan melanjutkan semangat Bapak Pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara, sebagai peletak Pedidikan Nasional Modern bagi bangsa Indonesia sekaligus Menteri Pendidikan pertama.
           Ki Hajar Dewantara memiliki nama asli R.M. Suwardi Suryaningrat. Beliau berasal dan keluarga keturunan Keraton Yogyakarta. Beliau mengganti namanya tanpa gelar bangsawan agar dapat lebih dekat dengan rakyat. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, beliau belajar di STOVIA, tetapi tidak menamatkannya karena sakit. BeIiau kemudian bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain De Express, Utusan Hindia,dan Kaum Muda. Sebagai penulis yang handal, tulisannya mampu membangkitkan semangat antikolonialisme rakyat Indonesia.
            Sang Menteri  juga aktif di bidang politik dengan bergabung ke dalam organisasi Boedi Utomo, lalu mendirikan Indische Partij sebagai partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia pada tanggai 25 Desember 1912 bersama kedua rekannya, Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo . Ki Hajar Dewantara juga ikut membidani terbentuknya Komite Bumiputra di tahun 1913 sebagai bentuk protes terhadap rencana Belanda memeringati kemerdekaannyaa dan Perancis. Beliau kemudian membuat sebuah tulisan pedas di harian De Express yang berjudui “Als lk een Nederlander” (Seandainya Aku Seorang Belanda). Melalui tulisan ini, beliau menyindir Belanda yang hendak merayakan 100 tahun kemerdekaannyaa dan Perancis di negeri jajahan dengan menggunakan uang rakyat indonesia. Berikut ini kutipannya telah ada di awal tulisan ini.
           Akibatnya, Belanda pun langsung menjatuhkan hukuman pengasingan. Bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesomo, beliau dibuang ke Belanda. Di Belanda, Ki Hajar Dewantara memanfaatkan kesempatan mendalami masalah pendidikan dan pengajaran. Setelah kembali ke tanah air, Ki Hajar Dewantara memusatkan perjuangan melalui pendidikan dengan mendirikan perguruan Taman Siswa pada tanggal 3 JuIi 1922. Perguruan ini merupakan wadah untuk menanamkan rasa kebangsaaan kepada anak didik. Ajaran Ki Hajar Dewantara yang terkenal adalah ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Artinya adalah di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan. Berkat jasanya yang besar di bidang pendidikan maka pemerintah menetapkan beliau sebagai Bapak Pendidikan dan tanggal lahirnya, dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Pada tahun 1957, beliau mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada. Dua tahun setelah mendapat gelar tersebut, beliau meninggal dunia pada tanggat 26 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.
            Perlu dijadikan sebagai tauladan dari beliau adalah, pertama, semangat dalam menyelenggarakan pendidikan di Tanah Air. Tidak ada kata berhenti dalam belajar. Pendidikan merupakan suatu hal yang niscaya bagi seluruh anak bangsa di Negara ini yang menjadi cita-cita Ki Hajar Dewantara. Seperti kata Anies Baswedan bahwa Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah “dosa” setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak Nusantara tidak berbeda, mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.
            Hal kedua yang patut dijadikan sebagai bahan kajian kita tentang sosok Ki Hajar Dewantara adalah semangat dalam menentang segala bentuk kolonialisme di dunia. Lewat Konferensi Asia Afrika beberapa waktu lalu Indonesia sukses menyuarakan dan mengajak Negara lain di kawasan Asia-Afrika, bahwa kemerdekaan bagi Rakyat Palestina menjadi hal yang niscaya. Indonesia memulai dengan rencana dibukanya Konsulat Jenderal Indonesia di Jerusalem dengan harapan akan diikuti oleh Negara-negara lain di dunia sebagai dukungan atas Kemerdekaan Rakyat Palestina.

Akhiran
            Banyaknya korupsi di kalangan elit kita, rusaknya moral bangsa, menjamurnya masyarakat miskin di sekitar kita adalah bukti konkrit bahwa pendidikan kita masihlah lemah. Kita sebagai kaum muda sudah pasti harus bahu membahu dalam memajukan pendidikan kita, dimana banyak sekali orientasi pendidikan yang hanya untuk hal-hal pragmatis sesaat, bukan untuk hal yang esensial yaitu untuk memajukan kehidupan bangsa. Wallahul Muwaffiq

*dikutip dari berbagai sumber
**Mahasisiwa Pendidikan Bahasa Arab, Sekretaris Komisariat PMII “Sunan Ampel” Malang, Peneliti di LKP2M
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

0 comments:

Post a Comment