Begitu banyak kata yang telah disanjung-sanjungkan demi menjunjung tinggi gelar kepahlawanan seseorang. Ada kriteria tertentu dalam menentukan gelar ini. Tentang bagaimana seseorang itu bisa disebut sebagai pahlawan, apa saja yang harus dia perbuat sehingga layak disebut sebagai seorang pahlawan. Bahkan Ada pula hari yang dijadikan sebagai hari perayaannya.
Memang menjadi sifat dasar manusia yang selalu ingin merayakan hari-hari yang dianggapnya menjadi momentum tentang sesuatu. Mulai dari Hari Buruh dan Hari Dokter untuk kalangan profesi tertentu, Hari Kemerdekaan dan Hari Kelahiran Pancasila sebagai bentuk rasa nasionalisme berbangsa. Dan yang terbaru dan sempat menjadi pertentangan yaitu tentang diperlukannya perayaan Hari Santri nasional sebagai bentuk penghargaan bangsa bagi kaum sarungan ini yang katanya sering terpinggirkan.
Kembali kepada topik Pahlawan, sebenarnya siapakah orang yang pantas kita sebut sebagai pahlawan hari ini. Para politisi kah? Yang kata orang pekerjaan mereka adalah mendistribusikan kemaslahatan, Para Kiai atau Ulama kah? Orang yang setiap siang-malamnya hanya mewaqafkan dirinya ditujukan pada sang Kuasa dengan pengamalan Ilmunya. Para pengangguran kah? (ini saya sendiri, hehe) yang setiap waktunya hanya dihabiskan dalam perenungan-perenungan.
Kepahlawan mempunyai kedekatan arti dengan pengorbanan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Jadi seorang pahlawan adalah mereka yang berani “memberikan” sesuatu yang dimilikinya dalam hal membela kebenaran.
Bagi saya, Pahlawan adalah mereka yang berjuang. Titik. Entah itu perjuangan para gerilyawan zamam 45 untuk mempertahankan kemerdekaan dalam hal ini, melawan para penjajah. Perjuangan seorang Kiai merawat santri-santrinya. Perjuangan Wali Kota/Bupadi demi kemajuan daerahnya. Perjuangan seorang suami untuk menafkahi anak dan istrinya. Perjuangan istri dalam merawat suami dan membesarkan anak-anaknya. Perjuangan pelajar dalam menguasai materi-materi yang ada di sekolah, madrasah, ataupun di bangku kuliah. Perjuangan tukang becak mengayuh sepeda anginnya untuk makan keluarganya. Perjuangan mahasiswa tingkat akhir dalam mengerjakantugas akhirnya. Sampai pada hal yang paling kecil sekalipun. Jika ada unsur perjuangan, maka dia adalah seorang pahlawan.
Bukannya terlalu berlebihan jika kita mengandaikan untuk menjadi pahlawan perjuangan nasional. Rasanya itu terlalu jauh dari zaman kita hidup sekarang. Atau kita ikut berperang di medan pertempuran melawan pemberontak ISIS di Timur Tengah juga rasanya tidak mungkin. Maka mari kita awali menjadi Pahlawan dengan mengorbankan diri kita untuk kita sendiri. Seperti korban waktu untuk belajar, agar masa depan cerah. Korban uang untuk pendidikan agar menjadi terpelajar. Atau kita luangkan waktu untuk menengok lingkungan sekitar dengan langkah paling kecil sekalipun dengan membuang sampah pada tempatnya. Secara tidak langsung kita penjadi pahlawan lingkungan.
Pahlawan adalah kita semua, kita semua adalah Pahlawan, mari berjuang!

0 comments:
Post a Comment