Tuesday, 15 September 2015

Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama (with Semeru)

Leave a Comment

Raudlatul Fikri - Judul diatas mungkin bisa sedikit mewakili apa yang saya rasakan ketika waktu mempertemukan saya dengan Semeru. Ini bukan persoalan cinta antara manusia tetapi perasaan cinta yang lebihdekat dengan rasa kagum kepada sedikit percikan keindahan, sebuah gunung, diciptakan oleh Sang Mahakuasa yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Gunung Semeru dengan segala pernak-perniknya seperti berhasil membius saya pada suasana takjub yang tak henti-henti. Panorama yang indah setiap tanjakan dan jalur tracking tak pernah berkutik untuk memanjakan mata, membuat bibir ini selalu menyebut AsmaNya.

     Setiap gunung mempunyai karakteristik tersendiri, dari sedikit beberapa gunung yang pernah penulis daki, gunung tidak bisa menilai gunung hanya dari MDPLnya saja atau ketinggian dibawah permukaan lautnya. Semisal Gunung Arjuno, meskipun lebih rendah dari Semeru, tetap menarik karena banyak candi peninggalan  zaman dahulu dengan  hutannya yang lebat, Gunung Panderman menawan dengan udara khas dan pemandangan perkotaan yang mempesona, Gunung Lemongan di Lumajang menawarkan keindahan puncaknya yang membentuk kawah aktif dengan jalan trackingnya yang terjal namun  membuat rindu. Lain dengan Gunung Arjuno, Panderman dan Lemongan, dari sedikit Gunung yang pernah saya daki, Gunung Semeru juga mempunyai daya tarik tersendiri.

     Daya tarik Gunung Semeru sudah mulai terasa ketika kami dari arah Kota Malang lewat Kecamatan Tumpang menuju ke Poncokusumo sampai ke Desa Ranu Pani, yaitu desa terakhir, tempat jalur pendakian para wisatawan dimulai. Setelahmengurus perizinan dan briefing dari petugas/relawan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), kami memulai pendakian awal menuju Ranu Kumbolo. Melewatijalur Watu Rejeng, aroma gunung menemani kami menyusuri bukit dengan tumbuhanyang dipenuhi dengan pinus, cemara dan rerumputan gunung, sekitar 3 jamkemudian kami sampai di Surganya Gunung Semeru, yaitu Ranu (Danau) Kumbolo. Ranu Kumbolo merupakan danau yang berada di ketinggian 2.400 MDPL, menawarkan hawa sejuk nan segar aroma air yang jernih, para pendaki bebas untuk meminumair di danau ini akan tetapi peraturan TNBTS melarang pendaki untuk mandi danmemancing disana karena ditakutkan merusak ekosistem dan kemurnian danau tersebut. Kalau ada kata lebih dari kata “indah”, mungkin sudah saya sampaikan untuk mewakili keindahan danau ini.

     Setelah bermalam di Ranu Kumbolo, kami melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Melewati Tanjakan Cinta yang menurut mitosnya, barang siapa yang kuat mendaki tanjakan ini tanpa istirahat dan melihat ke belakang, makacintanya akan abadi, tentu saja ini hanya sebuah mitos. Setelah Tanjakan Cintakita melewati Oro-oro Ombo yang datar dan sampai di Cemoro Kandang, di sini jalan mulai agak menanjak dengan hutan Cemara yang menakjubkan diselingi dengan pohon-pohon mentigi dan bunga edelweis. Setelah melakukan pendakian sekitar 3jam kami sampai di Jambangan, di tempat ini puncak Mahameru mulai terlihat jelas di depan mata mengepulkan asapnya setiap 10-15 menit menunjukkankeperkasaannya. Dari Jambangan menuju Kalimati sekitar setengah jam akhirnya kita dirikan tenda dan beristirahat untuk malamnya mendaki ke Mahameru, atapnya pulau Jawa.

     Malam jam 10 kita bangun, persiapan memasak dan makan untuk persiapan tenaga menuju puncak. Jam 11, setelah mengemasi barang bawaan yangdiperlukan kami berangkat menuju puncak Mahameru dengan berdo’a bersamaterlebih dahulu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dengan langkah pasti kami berangkat.

     Di perjalanan kami menemukan banyak sekali kebun Bunga Edelweis yang indah, bunga abadi kata orang, sampai di perbatasan hutan, menuju puncak setinggi 300 meter kami mendaki gundukan pasir, batu dan debu Mahameru. Rasa-rasanya puncak semakin menjauhi kami, ditambah salah satu dari teman kami yang mulai kehabisan tenaga, terpaksa perjalanan Kami  perlambat untuk keamanan dan berjaga-jaga agarsetiap anggota kami pulang dengan selamat. Berjam-jam kami berjalan sampai dibalap oleh rombongan pendaki yang lain lalu lalang mendahului kami. Ditambah hawa dingin dan angin kencang membuat tubuh kami bergetar karena menahan rasa dingin. Bibir dan hidung kami mulai merasa ngilu karna kedinginan. Tetapi itu semua kami arungi bersama, karena kami ingin menggapai puncak tempat para dewa ini bersama-sama.

     Akhirnya, setelah ikhtiar dengan segenap kekuatan yang tersisa, sampailah kami di puncak tertinggi Pulau Jawa, kami bersyukur karena bisa menapakkan kaki bersama di daratan tertinggi Jawa, di samping kawah "Jonggring Saloko", Mahameru. Ternyata kita bisa melakukan sesuatu lebih dari apa yang kitapikirkan. Semua terbukti di sini. Atap pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 MDPL telah kami taklukkan.

     Dari Gunung ini saya juga belajar tentang bagaimana kuasa Tuhan begitu besarnya, bagi saya, seperti tidak ada lagi alasan untuk berbesar diri (sombong) sebagai hamba sahaya di hadapanNya. Ya Allaah, hanya itu yang bisa saya ucapkan berkali-kali di atas sana. Maha Besar Allah dengan kehendakNya mengatur dunia dan seisinya dengan jalannya masing-masing dan hukum-hukumnya. Maha Tinggi Allah, bagiNya seluruh apa yang ada di langit dan apa saja yang beradadi Bumi. Semeru ini hanya sebagian kecil dari semesta kuasaNya.

     Dengan segenap rasa kagum saya pada Gunung ini, saya mohon jangan bilang pada siapa-siapa, karena ini rahasia, ssssssst saya telah jatuh cinta! Wallahulmuwaffieq


jam 04.00 WIB Gasek-Malang, 15-September 2015
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

0 comments:

Post a Comment