Raudlatul Fikri - Judul diatas mungkin bisa sedikit mewakili apa yang saya
rasakan ketika waktu mempertemukan saya dengan Semeru. Ini bukan
persoalan cinta antara manusia tetapi perasaan cinta yang lebihdekat
dengan rasa kagum kepada sedikit percikan keindahan, sebuah gunung,
diciptakan oleh Sang Mahakuasa yang berada di kawasan Taman Nasional
Bromo Tengger Semeru. Gunung Semeru dengan segala pernak-perniknya
seperti berhasil membius saya pada suasana takjub yang tak henti-henti.
Panorama yang indah setiap tanjakan dan jalur tracking tak pernah berkutik untuk memanjakan mata, membuat bibir ini selalu menyebut AsmaNya.
Setiap gunung mempunyai karakteristik tersendiri, dari sedikit beberapa gunung yang pernah penulis daki, gunung tidak bisa menilai
gunung hanya dari MDPLnya saja atau ketinggian dibawah permukaan
lautnya. Semisal Gunung Arjuno, meskipun lebih rendah dari Semeru, tetap menarik karena banyak candi peninggalan
zaman dahulu dengan hutannya yang lebat, Gunung Panderman menawan dengan
udara khas dan pemandangan perkotaan yang mempesona, Gunung Lemongan
di Lumajang menawarkan keindahan puncaknya yang membentuk kawah aktif
dengan jalan trackingnya yang terjal namun membuat rindu. Lain
dengan Gunung Arjuno, Panderman dan Lemongan, dari sedikit Gunung yang
pernah saya daki, Gunung Semeru juga mempunyai daya tarik tersendiri.
Daya tarik Gunung Semeru sudah mulai terasa ketika kami dari
arah Kota Malang lewat Kecamatan Tumpang menuju ke Poncokusumo sampai ke
Desa Ranu Pani, yaitu desa terakhir, tempat jalur pendakian para
wisatawan dimulai. Setelahmengurus perizinan dan briefing dari
petugas/relawan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), kami memulai
pendakian awal menuju Ranu Kumbolo. Melewatijalur Watu Rejeng, aroma
gunung menemani kami menyusuri bukit dengan tumbuhanyang dipenuhi dengan
pinus, cemara dan rerumputan gunung, sekitar 3 jamkemudian kami sampai
di Surganya Gunung Semeru, yaitu Ranu (Danau) Kumbolo. Ranu Kumbolo
merupakan danau yang berada di ketinggian 2.400 MDPL, menawarkan hawa
sejuk nan segar aroma air yang jernih, para pendaki bebas untuk
meminumair di danau ini akan tetapi peraturan TNBTS melarang pendaki
untuk mandi danmemancing disana karena ditakutkan merusak ekosistem dan
kemurnian danau tersebut. Kalau ada kata lebih dari kata “indah”, mungkin
sudah saya sampaikan untuk mewakili keindahan danau ini.
Setelah bermalam di Ranu Kumbolo, kami melanjutkan perjalanan menuju
Kalimati. Melewati Tanjakan Cinta yang menurut mitosnya, barang siapa yang
kuat mendaki tanjakan ini tanpa istirahat dan melihat ke belakang,
makacintanya akan abadi, tentu saja ini hanya sebuah mitos. Setelah
Tanjakan Cintakita melewati Oro-oro Ombo yang datar dan sampai di Cemoro
Kandang, di sini jalan mulai agak menanjak dengan hutan Cemara yang
menakjubkan diselingi dengan pohon-pohon mentigi dan bunga edelweis.
Setelah melakukan pendakian sekitar 3jam kami sampai di Jambangan, di
tempat ini puncak Mahameru mulai terlihat jelas di depan mata mengepulkan
asapnya setiap 10-15 menit menunjukkankeperkasaannya. Dari Jambangan
menuju Kalimati sekitar setengah jam akhirnya kita dirikan tenda dan
beristirahat untuk malamnya mendaki ke Mahameru, atapnya pulau Jawa.
Malam jam 10 kita bangun, persiapan memasak dan makan untuk persiapan
tenaga menuju puncak. Jam 11, setelah mengemasi barang bawaan
yangdiperlukan kami berangkat menuju puncak Mahameru dengan berdo’a
bersamaterlebih dahulu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Dengan langkah pasti kami berangkat.
Di perjalanan kami
menemukan banyak sekali kebun Bunga Edelweis yang indah, bunga abadi kata
orang, sampai di perbatasan hutan, menuju puncak setinggi 300 meter kami
mendaki gundukan pasir, batu dan debu Mahameru. Rasa-rasanya puncak
semakin menjauhi kami, ditambah salah satu dari teman kami yang
mulai kehabisan tenaga, terpaksa perjalanan Kami perlambat untuk
keamanan dan berjaga-jaga agarsetiap anggota kami pulang dengan selamat.
Berjam-jam kami berjalan sampai dibalap oleh rombongan pendaki yang lain
lalu lalang mendahului kami. Ditambah hawa dingin dan angin kencang
membuat tubuh kami bergetar karena menahan rasa dingin. Bibir dan hidung
kami mulai merasa ngilu karna kedinginan. Tetapi itu semua kami arungi
bersama, karena kami ingin menggapai puncak tempat para dewa ini
bersama-sama.
Akhirnya, setelah ikhtiar dengan segenap
kekuatan yang tersisa, sampailah kami di puncak tertinggi Pulau Jawa,
kami bersyukur karena bisa menapakkan kaki bersama di daratan tertinggi
Jawa, di samping kawah "Jonggring Saloko", Mahameru. Ternyata kita bisa
melakukan sesuatu lebih dari apa yang kitapikirkan. Semua terbukti di
sini. Atap pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 MDPL telah kami taklukkan.
Dari Gunung ini saya juga belajar tentang bagaimana kuasa
Tuhan begitu besarnya, bagi saya, seperti tidak ada lagi alasan untuk
berbesar diri (sombong) sebagai hamba sahaya di hadapanNya. Ya Allaah,
hanya itu yang bisa saya ucapkan berkali-kali di atas sana. Maha Besar
Allah dengan kehendakNya mengatur dunia dan seisinya dengan jalannya
masing-masing dan hukum-hukumnya. Maha Tinggi Allah, bagiNya seluruh apa
yang ada di langit dan apa saja yang beradadi Bumi. Semeru ini hanya
sebagian kecil dari semesta kuasaNya.
Dengan segenap rasa kagum
saya pada Gunung ini, saya mohon jangan bilang pada siapa-siapa, karena
ini rahasia, ssssssst saya telah jatuh cinta! Wallahulmuwaffieq
jam 04.00 WIB Gasek-Malang, 15-September 2015


0 comments:
Post a Comment