Oleh: RFA
Sudah lumrah di telinga kita bahwa dibalik kesuksesan seorang
laki-laki pasti ada seorang perempuan hebat dibelakangnya yang siap
memberikan apa saja termasuk luapan motivasi. Tetapi berbeda dengan
Alm. Indar Parawansa –semoga Allah mengmpuni segala dosanya-, Indar
menjadi sosok lelaki yang lain dari pada kebanyakan lelaki di
seantero negeri. Dia rela duduk dibelakang layar dan menjadi “pemain
belakang” dalam kehidupan Khofifah.
Seperti yang kita tahu bersama, siapa yang tidak kenal dengan
Khofifah Indar Parawansa, publik memang lebih mengenal Khofifah dari
pada suaminya Indar Parawansa, hal ini bisa dimaklumi karena memang
sepak terjang Khofifah dalam percaturan politik tidak bisa diremehkan
lagi. Baik sekala regional bahkan nasional.
Khofifah mengawali karir politiknya dari bawah. Mulai dari menjadi
aktivis mahasiswa di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia komisariat
Airlangga. Namanya semakin diperhitungkan ketika menjadi ketua
Muslimat NU dan menjadikan organisasi ini sebagai organisasi
perempuan terbesar di Indonesia dengan anggota mencapai 15 juta
orang.
Selanjutnya, sebagai politikus, dia mencetak sejarah sebagai anggota
DPR termuda pada tahun 1992 yang pada tahun yang sama Khofifah masih
berumur 26 tahun. Pada sidang Istimewa MPR 1998, Khofifah mengentak
jagat politik nasional. Dia berani menyerang kepemimpinan Soeharto
yang notabene adalah penguasa orde baru yang masih berkuasa pada kala
itu. Khofifah dengan berani mengkritik dalam pidatonya sebagai
perwakilan dari fraksi PPP. Dia menyorot pemilu yang banyak sekali
kecurangan di dalamnya dan mengenai kepemimpinan Soeharto yang
otoriter dan diktator.
Tak khayal, pidatonya itu langsung melambungkan namanya dalam jagat
politik nasional. Kemudian, ketika menjelang dan masa reformasi
berlangsung, para tokoh NU bersepakat untuk mendirikan Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB), dia memilih berpindah ke partai baru itu
sebagai wasilah perjuangannya.
Ternyata pilihan Khofifah tepat. Pemilu 1999, lewat PKB dia berhasil
masuk dalam parlemen dari daerah pemilihan Surabaya-Sidoarjo. Dengan
sendirinya dia juga masuk dalam jajaran elit di dalam partai ini. Gus
Dur waktu itu langsung memberikan amanat kepadanya sebagai ketua
fraksi PKB MPR RI.
Saat Gus Dur mengambil keputusan untuk menjadi calon presiden,
Khofifah diberikan tugas untuk melengkapi semua berkas pencalonan
dalam waktu semalam. Dan setelah Gus Dur menjadi presiden, Khofifah
mendapat intruksi baru untuk mendaftarkan Megawati sebagai Wakil
Presiden. Bisa jadi Megawati tidak akan pernah menjadi presiden jika
waktu itu dia tidak didaftarkan menjadi wakil presiden.
Pada 2008, atas restu sang suami, Khofiifah mantap untuk maju menjadi
calon gubernur jawa timur, yang sayang sekali dia menuai kekalahan
dengan pesaing beratnya pasangan Soekarwo-GusIpul pada putaran kedua.
Lalu pada pemilihan gubernur kemarin, 2013 Khofifah kembali
memantapkan diri sebagai calon gubernur menantang saingannya dalam
pemilihan gubernur sebelumnya, tapi sayang, kegagalan masih tidak mau
beranjak dari hidupnya. Namun, sebagai perempuan yang tegar dia tetap
tersenyum dalam menghadapi permasalahan ini yang tentunya tidak semua
perempuan dapat sebanding dengan dia apabila dihadapkan dengan
permasalahan yang sama.
Baru genap 1 tahun setelah kekalahannya dalam pemilihan gubernur,
Khofifah harus legawa, cobaan datang silih berganti dengan
meninggalnya mendiang suaminya; Indar Parawansa.
Sebagai politikus, Khofifah memang dituntut agar selalu terlihat di
depan umum. Berbeda dengan Indar yang seorang birokrat. Indar bekerja
di kementrian dalam negeri. Lalu ketika ada pertanyaan, siapakah
orang yang paling berpengaruh dibalik kesuksesan Khofifah, tentu
jawabnya adalah pria keturunan Syekh Yusuf Al-Makassary ini, ya,
Indar Parawansa!
Ini adalah salah satu contoh barometer kehidupan kita di Indonesia
dewasa ini. Bahwa perempuan tidak harus berada di belakang, bahwa
perempuan tidak harus mengurus segala urusan dapur. Tetapi perempuan
dan lelaki jaman sekarang harus lebih jauh lagi menatap sendi
kehidupannya dan bekerja sama yang tentunya dengan membicarakannya
dengan sebaik mungkin. Semoga tulisan ini bisa sedikit mencerahkan
para perempuan. Wallahul muwaffiq.
(direkonstruksi dengan penambahan dari OPINI Jawa Pos Senin, 20 Januari 2014)
0 comments:
Post a Comment