Thursday, 23 January 2014

“Man behind Women”, way not?

Leave a Comment
Oleh: RFA
Sudah lumrah di telinga kita bahwa dibalik kesuksesan seorang laki-laki pasti ada seorang perempuan hebat dibelakangnya yang siap memberikan apa saja termasuk luapan motivasi. Tetapi berbeda dengan Alm. Indar Parawansa –semoga Allah mengmpuni segala dosanya-, Indar menjadi sosok lelaki yang lain dari pada kebanyakan lelaki di seantero negeri. Dia rela duduk dibelakang layar dan menjadi “pemain belakang” dalam kehidupan Khofifah.
Seperti yang kita tahu bersama, siapa yang tidak kenal dengan Khofifah Indar Parawansa, publik memang lebih mengenal Khofifah dari pada suaminya Indar Parawansa, hal ini bisa dimaklumi karena memang sepak terjang Khofifah dalam percaturan politik tidak bisa diremehkan lagi. Baik sekala regional bahkan nasional.
Khofifah mengawali karir politiknya dari bawah. Mulai dari menjadi aktivis mahasiswa di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia komisariat Airlangga. Namanya semakin diperhitungkan ketika menjadi ketua Muslimat NU dan menjadikan organisasi ini sebagai organisasi perempuan terbesar di Indonesia dengan anggota mencapai 15 juta orang.
Selanjutnya, sebagai politikus, dia mencetak sejarah sebagai anggota DPR termuda pada tahun 1992 yang pada tahun yang sama Khofifah masih berumur 26 tahun. Pada sidang Istimewa MPR 1998, Khofifah mengentak jagat politik nasional. Dia berani menyerang kepemimpinan Soeharto yang notabene adalah penguasa orde baru yang masih berkuasa pada kala itu. Khofifah dengan berani mengkritik dalam pidatonya sebagai perwakilan dari fraksi PPP. Dia menyorot pemilu yang banyak sekali kecurangan di dalamnya dan mengenai kepemimpinan Soeharto yang otoriter dan diktator.
Tak khayal, pidatonya itu langsung melambungkan namanya dalam jagat politik nasional. Kemudian, ketika menjelang dan masa reformasi berlangsung, para tokoh NU bersepakat untuk mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dia memilih berpindah ke partai baru itu sebagai wasilah perjuangannya.
Ternyata pilihan Khofifah tepat. Pemilu 1999, lewat PKB dia berhasil masuk dalam parlemen dari daerah pemilihan Surabaya-Sidoarjo. Dengan sendirinya dia juga masuk dalam jajaran elit di dalam partai ini. Gus Dur waktu itu langsung memberikan amanat kepadanya sebagai ketua fraksi PKB MPR RI.
Saat Gus Dur mengambil keputusan untuk menjadi calon presiden, Khofifah diberikan tugas untuk melengkapi semua berkas pencalonan dalam waktu semalam. Dan setelah Gus Dur menjadi presiden, Khofifah mendapat intruksi baru untuk mendaftarkan Megawati sebagai Wakil Presiden. Bisa jadi Megawati tidak akan pernah menjadi presiden jika waktu itu dia tidak didaftarkan menjadi wakil presiden.
Pada 2008, atas restu sang suami, Khofiifah mantap untuk maju menjadi calon gubernur jawa timur, yang sayang sekali dia menuai kekalahan dengan pesaing beratnya pasangan Soekarwo-GusIpul pada putaran kedua. Lalu pada pemilihan gubernur kemarin, 2013 Khofifah kembali memantapkan diri sebagai calon gubernur menantang saingannya dalam pemilihan gubernur sebelumnya, tapi sayang, kegagalan masih tidak mau beranjak dari hidupnya. Namun, sebagai perempuan yang tegar dia tetap tersenyum dalam menghadapi permasalahan ini yang tentunya tidak semua perempuan dapat sebanding dengan dia apabila dihadapkan dengan permasalahan yang sama.
Baru genap 1 tahun setelah kekalahannya dalam pemilihan gubernur, Khofifah harus legawa, cobaan datang silih berganti dengan meninggalnya mendiang suaminya; Indar Parawansa.
Sebagai politikus, Khofifah memang dituntut agar selalu terlihat di depan umum. Berbeda dengan Indar yang seorang birokrat. Indar bekerja di kementrian dalam negeri. Lalu ketika ada pertanyaan, siapakah orang yang paling berpengaruh dibalik kesuksesan Khofifah, tentu jawabnya adalah pria keturunan Syekh Yusuf Al-Makassary ini, ya, Indar Parawansa!
Ini adalah salah satu contoh barometer kehidupan kita di Indonesia dewasa ini. Bahwa perempuan tidak harus berada di belakang, bahwa perempuan tidak harus mengurus segala urusan dapur. Tetapi perempuan dan lelaki jaman sekarang harus lebih jauh lagi menatap sendi kehidupannya dan bekerja sama yang tentunya dengan membicarakannya dengan sebaik mungkin. Semoga tulisan ini bisa sedikit mencerahkan para perempuan. Wallahul muwaffiq.
(direkonstruksi dengan penambahan dari OPINI Jawa Pos Senin, 20 Januari 2014)

If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

0 comments:

Post a Comment