Wednesday, 13 December 2017

Fikri, Guru Ngaji Sabilillah yang Kembali ke Jalanan

Leave a Comment

M. Royhan Rikza

"Boy, aku ate nang Malang. Ngopi yuk" pesan saya yang terbang melalui sosial media.
"Oke cak. Ngopi mburi UIN ya" balasnya.

      Dia, Fikri, panggilannya, adik kelas saya semasa kuliah sejuruan di UIN Malang. Po, demikian, Gus Moh Isomuddin Rosyidi, memanggilnya akrab. Po alias Fikri ini, kalau bicara, bak kyai sepuh yang sedang memberikan petuah. Sangat bijak. Saking bijaknya, ia tak tahu kalau yang dibicarakannya itu mengandung unsur mistis. Bagi pendengarnya, bisa langsung tersihir. Tapi sayang, kebijakannya dalam mengungkapkan apapun, apalagi tentang isi hatinya, belum berbuah pada hati perempuan mana takdirnya berlabuh.

      Kami kongkow. Apapun dibicarakan. Lama betul kami tidak ngopi. Sejak dia jadi guru di SD Sabilillah, jarang ada waktu yang pas untuk ngopi. Ada kemudian Lukman Moh Lukman Saidy (yang jadi tukang foto) yang sesekali serang Raudlatul Fikri lewar gojlokannya. Tapi Fikri sudah punya titel KH (Kebal Humor), mbok yo mau disikat, ditendang, bahkan sampai mau dilempar pada jurang tawa yang meledak-ledak, ia ceuk aja.

      Kini dia kembali ke habitatnya. Menggali jati diri. Mungkin istilah yanh pas Nyufi Ningrat di tengah hiruk pikuk dan gemerlap Kota Malang. Sambil dzikiran di atas sepeda motornya, atau sewaktu negosiasi konsumen untuk usaha kaus-kausnya, hatinya tak lupa pada Gusti Kang Paring Rohmat.

      Dia belum lama ini, undur diri dari SD Sabilillah. Apa gerangan? Yang kepo, tanya langsung saja ke Mas Konveksi--sebutan lain karena dia punya usaha Konveksi. Paling tidak, dan ini sepengalaman saya yang pernah tinggal se-kos dengannya, diam-diam naluri 'berontanya' karna ditindas sistem, muncul bak hantaman yang meresahkan sesiapapun. Tapi ini bukan alasan paten. Karna saya tau kok, wajah dan hati Fikri ini lembut. Haha...

      Bagaimana pun, jalan terjal bagi petualang adalah ilusi. Sebelum benar-benar menikah, Fikri, tetap akan angkat tangan kiri, mengepalkan tangannya, dan berteriak "Hanya pada pemuda yang jomblo lah, hakikat idealisme para pemuda akan terawat!!!" Tapi, apa dia masih golongan pemuda? Wallahu a'lam

 
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

0 comments:

Post a Comment