Sebelum berpulang, Gus Sholah juga mengangkat KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Wakil Pengasuh di dalam kepengasuhan Pesantren Tebuireng mulai tahun 2016. Empat tahun berselang, akhirnya Gus Sholah menghembuskan nafas terakhirnya tepat pada hari Ahad, 02 Februari 2020.
Tradisi mengangkat pengganti sebagai Pengasuh ini terbilang baru di lingkungan pesantren pada umumnya. Dimana Pengasuh Pesantren biasanya diganti setelah Pengasuh wafat.
Kami sebagai santri Tebuireng, dahulu sempat sedikit meragukan pergantian Gus Sholah sebagai Pengasuh. Entah mengapa ini juga dirasakan oleh alumni-alumni yang melihat Tebuireng dari luar.
Gus Sholah sebagai Cucu Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari lebih memilih menekuni ilmu-ilmu modern daripada belajar di pesantren dengan ilmu kitab agama yang bersumber dari kitab-kitab turats. Latar belakang sebagai lulusan ITB jurusan arsitektur membuat kami berpikiran Gus Sholah lebih mahir membangun bangunan dari pada membangun manusia. Begitu kira-kira yang ada di dalam benak kami.
Selang beberapa tahun setelah beliau menjadi Pengasuh, sedikit demi sedikit kekhawatiran kami luntur. Dalam waktu yang relatif singkat, Gus Sholah menjadikan Pesantren Tebuireng lebih memiliki kualitas. Seperti mendirikan Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ari yang fakus dalam ilmu agama, mendirikan SMA Trensains untuk pengembangan sains dan merekonstruksi ulang IKAHA menjadi Universitas Hasyim Asy’ari.
Beliau memang tidak mengajar kitab kuning selayaknya Pengasuh pesantren lain. Beliau lebih kepada memanage sistem di dalam pesantren. Gedung-gedung baru juga beliau dirikan, mualai dari asrama, gedung pertemuan, perpustakaan, klinik. Hal ini beliau lakukan agar pesantren tidak dipandang kuno dan ketinggalan zaman.
Ada 5 pesan yang selalu beliau tidak hanya sampaikan kepada para santri-santrinya, bahkan ditulis di berbagai sudut Pesantren Tebuireng sabagai nilai dasar yang wajib diamalkan para santri. Pertama, santri Tebuireng harus Ikhlas dalam mengamalkan kebaikan.
Kedua, santri harus jujur dalam setiap tindak tanduknya. Pernah Gus Sholah menyampaikan bahwa banyaknya korupsi di negeri ini bukan karena tidak adanya orang pintar, tapi karena jarang ditemukannya orang yang jujur.
Ketiga, santri Tebuireng harulah bekerja keras untuk mencapai cita-citanya. Pejuang. Gigih dalam segala situasi dan kondisi. Karakter ini harus dimiliki para santri.
Keempat, santri Tebuireng harus bertanggujawab terhadap apapun yang mereka lakukan. Artinya harus punya kesiapan untuk mengambil resiko menghadapi tantangan zaman yang semakin tidak menentu ini.
Kelima, santri harus mempunyai tradisi tasamuh. Toleransi yang tinggi di antara kemajemukkan di negeri ini.
Diantara kelima nilai dasar santri yang tersebut. Yang paling beliau tekankan adalan nilai dasar yang pertama dan yang kedua, Gus Sholah sangat berharap 2 utama kunci sukses dalam hidup ini diterapkan santri-santrinya di seluruh belahan dunia ini.
Kini Gus Sholah telah beristirahat di Maqbaroh Pesantren Tebuireng, semoga kami para santri-santrinya bisa tetap mengamalkan apa yang dulu pernah beliau nasehatkan dan teladankan. Aamiin. Ilaa Yai Sholahuddin Wahid, Al Faatihah.. Wallahulmuawaffiq

0 comments:
Post a Comment