Sunday, 19 October 2025

Kontroversi "Xpose Uncensored" dan Polemik Feodalisme Pesantren

Leave a Comment


Oleh: R Fikri Abdillah

Publik Indonesia belakangan digegerkan oleh penayangan program "Xpose Uncensored" di Trans7 pada 13 oktober 2025 yang menarasikan beberapa tradisi dunia pesantren dengan bahasa yang provokatif, bahkan cenderung merendahkan dan mengejek. Cuplikan yang menayangkan kebiasaan santri berjalan jongkok seolah harus ngesot untuk mendapatkan sesuatu seperti susu dan jeruk serta narasi tentang sarung kiai berharga jutaan yang dianggap didapat dari "amplop" masyarakat, secara sengaja atau tidak, telah menciptakan stigma bahwa pesantren menerapkan sistem feodalisme yang akut.


Tayangan tersebut sontak memicu kemarahan publik, terutama dari kalangan kaum sarungan (sebutan akrab bagi santri, alumni, dan pecinta pesantren). Bagi komunitas ini, sosok kiai atau guru adalah harga diri yang tak bisa ditawar. Penayangan sosok Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. M. Anwar Mansur, dalam footage video dengan narasi yang merendahkan, adalah puncak dari ketersinggungan tersebut.


Sebagai alumni pesantren, reaksi saya juga sama dengan santri pada umumnya, menyebarkan tagar #boikottrans7 dan me-report akun-akun terkait adalah respons yang wajar dan kolektif. Kemarahan ini bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan bentuk pertahanan institusi pendidikan tertua yang telah menjadi pilar penting bagi karakter moral dan spiritual bangsa. PBNU dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun mengecam keras tayangan tersebut karena dinilai telah mencederai martabat kiai dan santri, serta melanggar etika jurnalistik karena ketidakakuratan riset dan penyebaran disinformasi.


Dinamika Publik: Dukungan dan Marah yang Beradab dari Santri

Hal yang menarik adalah dinamika yang terjadi keesokan harinya. Keterkejutan muncul ketika Anda mendapati bahwa di media sosial, beberapa akun justru mendukung narasi Trans7, meskipun banyak pula yang menyayangkan tayangan itu.


Sikap yang terbelah ini menggarisbawahi pentingnya kritikan dan evaluasi terhadap pesantren. Karena semulia apapun, jika dicari celahnya, maka akan ketemu juga hal yang perlu dievaluasi. Dukungan terhadap tayangan tersebut betapapun kasarnya mencerminkan adanya celah atau masalah internal di beberapa pesantren yang selama ini luput dari pengamatan publik atau dianggap tabu untuk dibicarakan. Di sisi lain, sebagian besar respons santri mengedepankan "Marah yang Beradab" (meskipun tagar boikot cukup keras), yakni menyuarakan protes melalui jalur hukum, unjuk rasa dan pernyataan resmi, menunjukkan bahwa prinsip etika dan akhlak yang diajarkan pesantren tetap menjadi pedoman, bahkan di tengah kemarahan.


Polemik Feodalisme Pesantren vs. Penghormatan

Inti dari polemik ini terletak pada tuduhan feodalisme pesantren. Tuduhan ini mengacu pada beberapa tradisi:


Jalan Jongkok (Tawadhu'): Bagi orang luar, ini dilihat sebagai bentuk subordinasi dan penindasan. Namun, bagi santri, ini adalah praktik tawadhu' (kerendahan hati) dan khidmat (pelayanan/pengabdian) kepada kiai dan guru. Perlu digarisbawahi, bahwa tidak semua pesantren mempunyai tradisi tersebut. Pesantren-pesantren mempunya ciri khasnya sendiri dalam memaknai ketawadhu’an terhadap gurunya.


Amplop Kiai: Kritik ini menganggap pemberian amplop dari santri atau wali murid kepada kiai sebagai bentuk upeti feodal. Namun, ulama muda seperti Achmad Dhofir Zuhri (Gus Dhofir) dalam kanal youtube NU Online dengan judul “Benarkah Pesantren Mengajarkan Feodalisme?” menjelaskan bahwa tradisi ini perlu dibedakan secara tegas antara feodalisme dengan hormat. Gus Dhofir berpendapat bahwa penghormatan dalam bentuk berbagi (seperti amplop, beras, atau makanan) bukanlah praktik eksklusif kaum santri, melainkan bagian dari budaya berbagi masyarakat Indonesia yang sudah ada sejak lama. Selain itu, banyak santri yang justru datang dari keluarga serba kekurangan (nol atau minus secara ekonomi) dan kiai juga memiliki sumber penghasilan lain, sehingga hubungan ini lebih menyerupai relasi orang tua dan anak, bukan relasi penguasa-budak.


Kemajemukan Pesantren

Penting untuk dipahami bahwa pesantren memiliki kemajemukan yang luar biasa. Tidak semua pesantren sama. Menyimpulkan realitas pesantren secara keseluruhan hanya dari satu footage atau satu kejadian adalah sebuah kesalahan fatal dan ketidaktelitian riset.


Selain itu, program tersebut gagal memahami tradisi seperti ro'an. Ro'an adalah kerja bakti kolektif yang menjadi inti dari kehidupan komunal santri, mengajarkan gotong royong, kesetaraan, dan rasa kepemilikan. Nilai-nilai ini justru anti-feodalisme, sebab semua santri—terlepas dari status sosial dan latar belakangnya—ikut berpartisipasi dalam membersihkan lingkungan.


Agar obyektif, Sabrang Mowo Damar Panoeloeh (Noe Letto/Sabrang MDP) di kanal Youtube Caknun.com mengatakan bahwa ada poin pertimbangan jika santri itu melakukan ro’an, yaitu titik berat hasil ro’an. Kalau ro’an tersebut dilakukan untuk memaslahatan diri santri dan kebaikan bersama seperti ikut ngecor – bersama pengawas ahli -- yang bangunan itu digunakan untuk kelangsungan kegiatan belajar secara kolektif, maka itu bagus untuk memberikan nilai empati dan gotong royong kepada para santri. Yang tidak boleh Adalah ketika ada santri disuruh untuk menjaga toko Kyai yang keuntungannya itu dipakai untuk pribadi tanpa ada bayaran yang cukup secara profesional.


Di era sekarang kita perlu berhati-hati dalam menanggapi isu yang sedang terjadi. Dewasa ini zaman sudah menuntut orang untuk selalu transaksional dalam melakukan segala hal. Seolah hanya profit yang dicari tanpa mempertimbangkan benefit yang lainnya. Bahwa guru yang mengajarkan tentang akhlak dan tata krama serta jalan hidup yang membawa ketenangan batin (benefit) tidak lebih penting dari bos dan ratting yang memberikan gaji (profit) seolah menghormati guru bagi santri tidak memperolah apa-apa kecuali dianggap sebagai budak Kyai.


Pada akhirnya, tayangan "Xpose Uncensored" menjadi momentum penting. Ia adalah kritik tajam yang, meskipun disajikan secara tidak beradab dan tidak berimbang, membuka ruang untuk evaluasi internal bagi pesantren, memastikan bahwa tradisi mulia seperti khidmat tidak disalahartikan hingga menyerupai praktik feodal. Sementara itu, kaum sarungan juga diajak untuk merespon hal kejadian ini dengan terus melakukan inovasi di segala lini agar tidak berlarut-larut berdebat kusir di lini media sosial. Para santri tidak bisa memaksa semua orang untuk cinta dengan pesantren dengan sejarahnya yang panjang dan kontribusi signifikan untuk negeri ini. Yang bisa kita lakukan adalah membuktikan bahwa santri punya prestasi dan lulusannya bisa bersaing dengan Lembaga Pendidikan lainnya. Wallahulmuwaffiq.

If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

0 comments:

Post a Comment