Monday, 29 June 2015

Menentang Agenda Kapitalisme dengan Cinta

Leave a Comment
Oleh: R Fikri Abdillah*

            “Cintatidak pernah meminta, ia senantiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapitidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Dimana ada cinta disitu adakehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan”
            -Mahatma Gandhi (tokoh perdamaiandunia)-

            Mengapapenulis awali tulisan ini dengan sebuah narasi cinta, karena akar dan esensidari kehidupan ini adalah cinta tuhan kepada hambanya. Puncak dari kehidupanadalah moralitas yang tinggi (akhlaqul karimah) setiap hambanya yang berharmonidalam setiap sendi kehidupannya. Bayangkan jika cinta ini dicabut oleh sangMaha Cinta, dibuang oleh sang Pemilik Cinta sejati, maka jadi apa dunia danseisinya ini dan tidak perlu dibayangkan lagi berapa tingkat kriminalitas yangakan terjadi.
            Di zaman modern ini, dengan kemajuan teknologinya yang semakin canggih. Manusia dihadapkan dengan persoalan yang serius: kemanusiaan. Manusia semakin hari,semakin tidak mengenali siapa dirinya yang sebenarnya. Manusia yang seharusnyamemanusiakan manusia berubah menjadi manusia yang memakan sesama manusia.Tujuan hidup yang diharapkan menjadi manusia yang siap saling bergandengantangan menuju kebahagiaan bersama, menjadi tujuan manusia satu ingin menguasaimanusia yang lainnya.
            Itulahkapitalisme, yaitu sistem ekonomi dimana perdagangan, industri dan alat-alatproduksi dikendalikan oleh pemilik swasta (borjuis) dengan tujuan membuatkeuntungan dalam ekonomi pasar[1].Dari sini para pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntunganyang sebesar-besarnya. Tidak peduli dengan apa yang dialami oleh pekerja yangmenjadi tulang punggung para pemilik modal. Nasib para buruh digantungkan dalamtangan-tangan para pengusaha.
 Maka usaha secara terus-menerus dilakukanuntuk membatasi segala kapitalisasi dalam industri nasional. Dari beberapa carayang dilakukan adalah dengan pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah terkaitbarang-barang yang menjadi kebutuhan atau hajat hidup orang banyak, seperti air,minyak gas, dan listrik. Melalui undang-undang dasar 1945 kemudiandiejawantahkan dalam UU ketenagakerjaan dan lain sebagainya.
            Memangkalau kita berbicara kapitalisme, kita juga harus mengikutkan sang maestronyayaitu karl marx. Marx berpendapat ada dua struktur dalam Negara yang membuatNegara itu terus berlangsung, yaitu base structure dan superstructure. Yang dimaksud dari struktur basis adalah mereka orang-orangpemilik modal, Negara hanya dijadikan sebagai alat legitimasi bisa berupaperlindungan untuk aset-aset yang mereka miliki atau perluasan usaha yangsemakin mengeruk rakyat kelas bawah. Sedangkan yang dimaksud dengan struktursuper adalah orang-orang pelengkap setelah struktur basis seperti agamawa,budayawan, pegawai, perangkat pemerintah dan lain-lain[2].
            Berbedadengan Hegel yang berpendapat bahwa Negara adalah suatu bentuk dari “kolektivitassosial” (dan filsuf politik lain seperti Hobbes,Locke, Rousseau dan Smith)[3].Yaitu dijalankan melalui perwakilan yang diambil dari berbagai golongan masyarakat.
            Denganfenomena kapitalisme yang menggurita sekarang, dengan cabang usaha yangdidirikan di seluruh penjuru negeri. Banyak perusahaan nasional yang mematikansektor ekonomi domestik atau lokal. Bahkan tidak hanya perusahaan yang berskalanasional, tetapi juga perusahaan yang multi nasional dengan mudahnya masuk kedalam pasar Indonesia. Bangsa ini semacam tidak kuat dan tidak mampu lagimembendung segala cengkraman kapitalis. Pemerintahan kita loyo dalam melindungikepentingan kaum menengah ke bawah. Bukan karena tidak mampu, tetapi karenasudah hilangnya moralitas itu sendiri.
            Persoalanjuga dari minyak mentah kita yang dikuasai asing. Belum lagi tambang emas kitadi papua yang dikeruk kekayaannya oleh Freeport, yaitu perusahaan dari Amerikayang bernama Freeport – McMoran Copper & Gold Inc. kurang ajarnyaperusahaan asing ini, 2 tahun terakhir belum menyetorkan dividen kepada Negarayang jumlahnya mencapai Rp 1,5 triliun. Lalu, dimana martabat kita sebagaibangsa yang besar?.[4]
            DisinilahPergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mengambil peran, sebagaimanatertuang dalan Nilai Dasar Pergerakan (NDP PMII) yaitu Hablun min An-naasdan sebagai mahasiswa yang masih berproses dalam bingkai akademik ini palingtidak bersama masyarakat harus bersatu dalam membendung agenda kapitalisme ini.Meskipun tidak bisa dengan segera menghentikannya secara langsung, paling tidakdengan mengmpanyekan anti kapitalisme. Kita junjung kembali tradisi gotongroyong bangsa kita, yang sejalan dengan pribahasa berat sama dipikul, ringansama dijinjing.
            PMIIdan masyarakat juga harus ikut dalam alur perpolitikan, bukan melulu politikpraktis tetapi politik yang tinggi (siyasah al Aliyah)[5].Yaitu politik kebangsaan, politik kerakyatan yang berhubungan dengan hak dankewajiban rakyat, dan mengawal politik santun serta sadar berpolitik (tidakapolitik).
Perlu diingat juga halterpenting dalam menjalankan kehidupan ini adalah soal moralitas, soalbagaimana memperlakukan sahabat, kawan, dan teman kita dengan sebaik mungkin.Ditengah-tengah hiruk pikuk kehidupan modern, moralitas menjadi barang mahalyang susah untuk ditemukan. Dan pada akhirnya segala ilmu pengetahuan yangtelah ditempa dalam masa perkuliahan (oleh mahasiswa PMII khususnya dan umumnyaseluruh mahasiswa) adalah untuk menjunjung tinggi moralitas sebagai manusia(memanusiakan manusia). Setelah itu dapat tercipta cinta kasih antara manusiasatu dengan yang lainnya.
            Merefleksikanjuga 54 tahun Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang masih berdiri tegak dansiap untuk terus mengawal kebijakan pemerintah, siap untuk mengawal NegaraKesatuan Republik Indonesia sebagaimana tujuan bersama untuk menjadibaldatunthayibatun wa rabbun ghaffur serta melestarikan ajaran Islam Ahlussunahwal Jama’ah yang rahmatan lil Alamin. Wallahul Muwaffiq.

*EditorBuletin Elminhaj PMII  rayon “Perjuangan”Ibnu Aqil.

[1]Wikipedia:kapitalisme
[2]Lihat Hal: 3 Antonio Gramsci, Negara dan Hegemoni karangan Nezar Petria &Andi Arief
[3]Ibid Hal: 9
[4]Bacaberita “Menkeu Tetap Tagih Dividen Freeport Rp 1,5T Jpnn.com (17 April 2014)
[5]Meminjam kata Alm. KH Sahal Mahfudh (Rais Am ke-8 PBNU)
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

0 comments:

Post a Comment