Tuesday, 13 December 2016

Mbah Kiai Idris Kamali, guru Kiai Tholhah*

Leave a Comment

Oleh: Raudlatul Fikri**

            Siapa yang tidak mengenal tokoh Ulama Nasional sekaliber KH. Ma’ruf Amin Rais Aam PBNU, Prof. Dr. KH. M Tholhah Hasan mantan Menteri Agama era Presiden Gus Dur, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Alm. Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub MA., Alm. KH. Ishaq Latif, Dr. KH. Musta’in Syafi’i, M.Ag Tebuireng, Ulama sepuh Jakarta KH. Abdul Hayyie M. Na’im. Tentunya orang-orang yang tersebut tidaklah asing di telinga umat Islam, terutama kaum Nahdliyin.

            Kebesaran tokoh-tokoh di atas adalah bukti kebesaran dan kerendahan hati Guru beliau-beliau ini, yaitu KH. Idris Kamali. Seorang Kiai bersahaja yang melahirkan tokoh dari tangan dinginnya. Dibuktikan dengan lahirnya para tokoh nusantara, mulai dari Kiai hingga Menteri, ternyata dulu adalah murid-murid beliau di Tebuireng. Ada juga yang menjadi kepala lembaga pendidikan besar, menteri, birokrat, pengusaha. Semua murid didikan Kiai Idris memegang peran penting di dunianya masing-masing.

Beliau dikenal sebagai guru yang disiplin dan ketat dalam mengajar. Begitu juga dengan murid-muridnya, beliau pasti tahu kalau ada yang tidak masuk tanpa izin. Tidak mudah untuk menjadi murid didikan Kiai Idris, Kiai Idris memang tinggal di Tebuireng tetapi bukan berarti semua santri saat itu bebas bisa menjadi santri beliau, santri didiakan beliau hanya sekitar 20an. Ada beberapa sayarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Mulai dari shalar berjama’ah yang tidak pernah bolong, rajin belajar, tidak pernah bolos dalam pengajian, dan sebagainya.

Sebelum mengaji kepada Kiai Idris, calon-calon murid terlebih dahulu harus menghafal kitab dasar yang telah ditentukan. Misalnya, ketika ada yang ingin mengaji kitab Syarh Mutammimah, maka ia harus hafal kitab Al Jurumiyah.  Ketika ingin mengaji kitab Ibnu Aqil, maka harus hafal Nadzam Al Fiyyah Ibnu Malik terlebih dahulu.

Kalau ingin mengikuti pengajian kitab shahih Bukhari atau Shahih Muslim, maka si santri harus hafal Nadzam Baiquniyah sebagai ilmu haditsnya. Juga harus hafal kitab usul fiqhnya yakni al Waraqaat. Hal itu berguna untuk memahami hadits-hadits pada kitab shahihayn tersebut.

Hafalan-hafalan tersebut tidak sekedar persyaratan, tetapi juga terus diperhatikan oleh Kiai Idris. Setelah si santri sudah menyetorkan hafalannya, langkah berikutnya harus berjanji untuk mengikuti pengajian Kiai Idris dengan Istiqomah. Tidak boleh mementingkan kegiatan lain di luar belajar dan mengaji. Kalau ada santri yang bolos atau alpa, maka Kiai Idris akan marah dan menjatuhkan hukuman kepada si santri dengan diperintahkan untuk memohon maaf kepada orangtuanya. Menurut beliau, santri yang bolos bukan hanya berdisa kepada guru, akan tetapi juga kepada orang tua di rumah yang susah payah membiayai.

Hijrahnya Kiai Tholhah Ke Malang
            Sekitar tahun 1957, KH. Masykur (mertua KH. Tolhah Hasan) ingin membuka Madrasah Tsanawiyah. Lalu beliau datang ke Tebuireng ingin mencari guru, sowan  kepada Mbah Kiai Idris. Belum sampai 10 menit beliau berbincang-bincang, datanglah Mbah Kiai Mahrus Ali, Lirboyo Kediri. Kedatangannya dengan maksud yang sama, untuk mencari guru. Beliau berdua sama-sama dari Cirebon. Kemudian Mbah Idris berkata, “Saya ini punya santri yang barangkali bisa membantu kiai-kiai mendirikan madrasah-madrasah. Ini, namanya Tholhah,” ucap Kisi Idris sambil menunjuk diri Kiai Tholhah.

            “Karena Kiai Masykur datangnya lebih dulu, nanti Kiai Mahrus saya carikan yang lain lagi,” ucap beliau.

            Akhirnya Kiai Tholhah Muda diserahkan kepada Kiai Maskur karena beliau lebih dulu datangnya dari pada Kiai Mahrus. Meskipun begitu, hubungan Kiai Tholhah dengan Kiai Mahrus masih baik. Bahkan ketika menikah di Singosari, beliau-beliau datang semua; Mbah Kiai Idris, Mbah Kiai Maskur, Mbah Kiai Mahrus Ali.

            Semenjak saat itu, Kiai Tholhah yang berasal dari tuban berkiprah di Kota dingin ini dan membangun sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah berbasis Islam seperti yang di dawuhkan oleh Kiai Idris, Guru beliau. Wallahu A’lam
           

*disarikan dari Buku “Tokoh Besar Dibalik Layar: KH. Idris Kamali” Oleh Tim Penulis, Penerbit: Pustaka tebuireng
**Guru Sekolah Dasar
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

0 comments:

Post a Comment