
Oleh:
Raudlatul Fikri**
Siapa
yang tidak mengenal tokoh Ulama Nasional sekaliber KH. Ma’ruf Amin Rais Aam
PBNU, Prof. Dr. KH. M Tholhah Hasan mantan Menteri Agama era Presiden Gus Dur,
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Alm. Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub MA.,
Alm. KH. Ishaq Latif, Dr. KH. Musta’in Syafi’i, M.Ag Tebuireng, Ulama sepuh
Jakarta KH. Abdul Hayyie M. Na’im. Tentunya orang-orang yang tersebut tidaklah
asing di telinga umat Islam, terutama kaum Nahdliyin.
Kebesaran
tokoh-tokoh di atas adalah bukti kebesaran dan kerendahan hati Guru
beliau-beliau ini, yaitu KH. Idris Kamali. Seorang Kiai bersahaja yang
melahirkan tokoh dari tangan dinginnya. Dibuktikan dengan lahirnya para tokoh
nusantara, mulai dari Kiai hingga Menteri, ternyata dulu adalah murid-murid
beliau di Tebuireng. Ada juga yang menjadi kepala lembaga pendidikan besar,
menteri, birokrat, pengusaha. Semua murid didikan Kiai Idris memegang peran
penting di dunianya masing-masing.
Beliau dikenal
sebagai guru yang disiplin dan ketat dalam mengajar. Begitu juga dengan
murid-muridnya, beliau pasti tahu kalau ada yang tidak masuk tanpa izin. Tidak mudah
untuk menjadi murid didikan Kiai Idris, Kiai Idris memang tinggal di Tebuireng
tetapi bukan berarti semua santri saat itu bebas bisa menjadi santri beliau,
santri didiakan beliau hanya sekitar 20an. Ada beberapa sayarat dan ketentuan
yang harus dipenuhi. Mulai dari shalar berjama’ah yang tidak pernah bolong,
rajin belajar, tidak pernah bolos dalam pengajian, dan sebagainya.
Sebelum mengaji
kepada Kiai Idris, calon-calon murid terlebih dahulu harus menghafal kitab
dasar yang telah ditentukan. Misalnya, ketika ada yang ingin mengaji kitab Syarh
Mutammimah, maka ia harus hafal kitab Al Jurumiyah. Ketika ingin mengaji kitab Ibnu Aqil, maka
harus hafal Nadzam Al Fiyyah Ibnu Malik terlebih dahulu.
Kalau ingin mengikuti
pengajian kitab shahih Bukhari atau Shahih Muslim, maka si santri harus
hafal Nadzam Baiquniyah sebagai ilmu haditsnya. Juga harus hafal kitab
usul fiqhnya yakni al Waraqaat. Hal itu berguna untuk memahami
hadits-hadits pada kitab shahihayn tersebut.
Hafalan-hafalan
tersebut tidak sekedar persyaratan, tetapi juga terus diperhatikan oleh Kiai
Idris. Setelah si santri sudah menyetorkan hafalannya, langkah berikutnya harus
berjanji untuk mengikuti pengajian Kiai Idris dengan Istiqomah. Tidak
boleh mementingkan kegiatan lain di luar belajar dan mengaji. Kalau ada santri
yang bolos atau alpa, maka Kiai Idris akan marah dan menjatuhkan hukuman kepada
si santri dengan diperintahkan untuk memohon maaf kepada orangtuanya. Menurut beliau,
santri yang bolos bukan hanya berdisa kepada guru, akan tetapi juga kepada
orang tua di rumah yang susah payah membiayai.
Hijrahnya Kiai Tholhah Ke Malang
Sekitar
tahun 1957, KH. Masykur (mertua KH. Tolhah Hasan) ingin membuka Madrasah
Tsanawiyah. Lalu beliau datang ke Tebuireng ingin mencari guru, sowan kepada Mbah Kiai Idris. Belum sampai 10 menit
beliau berbincang-bincang, datanglah Mbah Kiai Mahrus Ali, Lirboyo Kediri.
Kedatangannya dengan maksud yang sama, untuk mencari guru. Beliau berdua
sama-sama dari Cirebon. Kemudian Mbah Idris berkata, “Saya ini punya santri
yang barangkali bisa membantu kiai-kiai mendirikan madrasah-madrasah. Ini,
namanya Tholhah,” ucap Kisi Idris sambil menunjuk diri Kiai Tholhah.
“Karena
Kiai Masykur datangnya lebih dulu, nanti Kiai Mahrus saya carikan yang lain
lagi,” ucap beliau.
Akhirnya
Kiai Tholhah Muda diserahkan kepada Kiai Maskur karena beliau lebih dulu
datangnya dari pada Kiai Mahrus. Meskipun begitu, hubungan Kiai Tholhah dengan
Kiai Mahrus masih baik. Bahkan ketika menikah di Singosari, beliau-beliau
datang semua; Mbah Kiai Idris, Mbah Kiai Maskur, Mbah Kiai Mahrus Ali.
Semenjak
saat itu, Kiai Tholhah yang berasal dari tuban berkiprah di Kota dingin ini dan
membangun sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah berbasis Islam seperti yang di
dawuhkan oleh Kiai Idris, Guru beliau. Wallahu A’lam
*disarikan dari Buku “Tokoh Besar Dibalik
Layar: KH. Idris Kamali” Oleh Tim Penulis, Penerbit: Pustaka tebuireng
**Guru Sekolah Dasar
0 comments:
Post a Comment