Berkunjung ke luar negeri adalah salah satu cita-cita saya dalam beberapa cita-cita yang ingin saya wujudkan dalam hidup. Entah mengapa bayangan tentang “luar negeri” bagi saya adalah sebuah pencapaian luar biasa dalam hidup. Negara manapun pokoknya di luar Indonesia. Itu batin saya.
Mitos tentang luar negera yang selama ini mungkin dianggap mempunyai kepastian maju dalam perspektif masyarakat kita (atau saya sendiri). Istilah luar negeri yang mengandaikan bangsa Eropa dan Amerika dengan kemajuan-kemajuannya terbukti dengan budayanya yang kita pakai dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara berpakaian, alat yang kita pakai, sampai musik yang kita dengarkan dan nyanyiakan.
Alhamdulillah tersampai pada pertengahan Bulan Desember tahun 2019, akhirnya, saya pergi juga ke “luar negeri”.
Kerajaan Malaysia dan Republik Singapura menjadi 2 negara tujuan kunjungan saya. Dua negara yang masih bertetangga dengan Indonesia. Tradisi melayu yang kental, bahasa, warna kulit yang juga masih sama dengan kita.
Menilik laporan World Happiness Report 2019 yang terbit akhir Maret lalu, posisi Indonesia ada di urutan 92. Lebih baik 4 tingkat dari tahun 2018 yaitu di posisi 96. Meski begitu, peringkat ini masih di bawah 4 negara ASEAN lain. Indonesia masih kalah dibandingkan Singapura (34), Thailand (52), Pilipina (69) dan Malaysia (80).
Laporan di atas membuat saya lebih membuka mata saya lebar-lebar ketika mengunjungi dua negara yang secara tertulis lebih bahagia dari pada Indonesia itu. Secara langsung saya perhatikan di jalan. Bagaimana keadaan bangunannya, keadaan orang-orangnya, cara berbicaranya, adat istiadatnya, bentuk pemerintahannya. Meskipun tidak sevalid sebuah penelitian, minimal saya menemukan sesuatu menurut hemat pengalaman saya sendiri.
Ada masing-masing satu saja point dari masing-masing negara ini yang saya ambil.
Singapura lebih tertib dari Indonesia. Dengan luas daratan hanya 692,7 km² dengan jumlah penduduk sekitar 6-7 juta jiwa membuat negara ini sangat padat. Per km sekitar 6.000 orang kita temukan. Begitu padatnya sampai rumah tidak dibangun di atas tanah sendiri melainkan rumah dibangun dengan disusun-susun seperti apartemen dan gedung-gedung.
Hal itu tidak membuat negara ini semrawut. Semuanya yang ada dibawah pemerintahan seorang muslimah berhijab, Presiden Halimah Yacob ini berjalan dengan tertib dan teratur. Mulai kebersihan, pejalan kaki yang mengikuti aturan, mobil yang tidak terlalu banyak hingga tiang-tiang listrik yang nihil, karena semua kabel listrik dipendam di dalam tanah (ini yang paling membedakan dengan kota-kota yang ada di Indonesia, hemat saya). Banyak yang bilang Singapura adalah gambaran kota masa depan.
Point untuk Malaysia, negara ini lebih percaya diri dibanding Indonesia. Secara ekonomi Malaysia lebih percaya dengan produk-produk buatan dalam negerinya. Hal ini ditandai dengan banyaknya mobil dengan merek “Proton” yang ada di jalan raya. Produk Negeri Jiran yang diproduksi di dalam negeri sendiri. Dukungan pemerintah juga ikut mengambil andil dengan pajak rendah untuk mobil buatan sendiri dan menuntut pajak berlipat untuk kendaraan-kendaran impor.
Bentuk pemerintahan monarki konstitusional membuat negara ini cenderung stabil dalam bernegara. Bergabunganya 13 kesultanan menjadikan negara ini negara federasi yang dipimpin oleh Maharaja diberi gelar Yang di-Pertuan Agong. Meskipun ada beberapa catatan tentang kebebasan berpendapat yang kurang, negara ini berhasil membuat politiknya stabil. Negara ini juga mendapatkan predikat sebagai kesultanan tertua yang masih ada di dunia, yaitu Kesultanan Kedah yang didirikan pada tahun 1136 M.
Dua point di atas adalah sedikit saja gambaran saya secara sangat subyektif.
Saya sebagai orang Indonesia, ada satu hal besar yang tidak ada di kedua negara itu. Persatuan. Mereka belum bersatu seutuhnya dalam bahasa. Indonesia mempunya bahasa resmi yaitu Bahasa Indonesia, yang bisa dituturkan oleh mayoritas anak bangsa. De Facto dan De Jure Bahasa Indonesia menjadi primadona di negaranya sendiri. Malaysia dan Singapura belum. Bahasa mereka impor, campuran dan belum menjadi satu.
Indonesia bangsa besar yang satu, dimana tidak ada orang-orang etnis tertentu yang hidup terpisah-pisah. Semuanya bersatu. Dimana saya lihat di Malaysia dan Singapura, bangsa melayu hanya berada di komunitasnya sendiri, bangsa India/Bangla sendiri, Tionghoa sendiri. Mereka terpisah-pisah secara budaya dan bahasa. Itu juga yang saya lihat di Singapura. Mereka belum bersatu sebagai bangsa.
Hal itu pun yang membuat saya sedikit lega sebagai warganegara Indonesia, kita punya kekuatan besar yaitu persatuan. Kita tidaklah kalah sama sekali. Sedikit demi sedikit kita akan perbaiki semuanya dan bersaing dengan negara-negara itu. Wallahua’lam


0 comments:
Post a Comment