Oleh: Raudlatul Fikri**
Setiap orang menginginkan kehidupan yang ideal.
Hidup yang seperti diinginkan kebanyakan orang, yaitu hidup yang memberikan
kenyamanan, kesejahterahan, dan keamanan. Namun kenyataanya, yang ditemukan
kadang sebaliknya. Ketika dijalani tidak seindah yang diharapkan dan
dibayangkan. Begitu banyak sekali keinginan itu menjadikan juga orang bertemu
dengan kekecewaan karena keinginan itu tidak tersampaikan. Dunia dengan warna
berbagai kebahagian semu, selalu menawarkan sesuatu yang kadang utopis,
meraihnya bahkan harus sampai berdarah-darah. Orang kemudian menjadi menjadi
terlena dengan keinginan-keinginannya itu sampai lupa bahwa yang menjadi tujuan
hidup adalah kebahagiaan itu sendiri.
Komaruddin Hidayat, seorang yang sudah tidak
diragukan lagi tingkat intelektualitasnya. Seorang Guru Besar Psikologi di Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan cermat memberikan tips-tips
pada sebuah buku untuk tidak terkecoh dengan apa yang dimaksud dengan kebahagian
semu, atau dalam bahasanya diistilahkan dan dijadikan judul buku ini dengan
bingkai “penjara-penjara kehidupan”. Di antara penjara-penjara kehidupan
menurut Komaruddin, bisa saja muncul dari pemahaman dan sikap beragama yang
salah. Awalnya, agama selalu mengajak pada kebaikan dan kedamaian, namun jika
paham keberagamaan malah menjadi sumber dan pemicu konflik berdarah-darah yang
menyengsarakan, disitu pemahaman agama telah menjadi penjara. Terjadilah paradoks,
agama ynag berhembus dengan nuansa kesejukkan berubah menjadi hawa menyengat
yang menyesakkan pernafasan.
Buku ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian
pertama berjudul “Penjelajahan Tak Terbatas”, bagian ini lebih menjelaskan
tentang hakikat manusia dalam kehidupannya. Seperti menceritakan tentang
hubungan antara Kiai atau Guru dan Santri atau Muridnya. Pak Kiainya sebagai
seorang guru kehidupan menyampaikan sebuah pesan yang kemudian menjadi virus
yang tak pernah mati dalam diri Komaruddin Hidayat. Menurutnya, hidup itu harus
bergerak mengalir menuju cita-cita. Jangan berhenti belajar dan berkarya,
karena akan mengundang nyamuk dan penyakit. Seperti dikatakan dalam Al Qur’an: “Faidzaa
faraghta fanshab, wa ilaa rabbika farghab” (QS Al Insyirah (94): 7-8.). Jangan berhenti setelah selesai
menunaikan satu tugas. Dan semua yang engkau lakukan itu, serahkan kepada
Tuhanmu. Bukan mencari pujian dari manusia.
Orang yang tidak produktif sungguh merugi dan menyia-nyiakan fasilitas umurnya. Sering kita telah terpenjara oleh kemalasan, kebodohan, dan kebutaan dalam membaca dan memahami kehidupan. Dunia menjadi penjara yang menahan pertumbuhan dan perjalanan lebih lanjut, menembus batas yang kita ciptakan sendiri. Meminjam bahasa Taufik Ismail, kita hidup dalam kotak, lalu sibuk membuat kotak-kotak yang makin kecil lagi sampai kita tak bisa bergerak karena terjeput oleh kotak-kotak yang kita ciptakan sendiri.
Di bagian kedua yang berjudul “Penjara-penjara Non Fisik”, Komaruddin Hidayat mulai mencontohkan apa yang disebut penjara dalam hidup. Bukan penjara seperti yang kita lihat di LAPAS tempat para narapidana ditahan, tapi penjara kasat mata yang memenjara kita tanpa kita sadari. Penulis lebih banyak mencontohkan “penjara” itu sebagai sebuah pemahaman yang keliru tentang beragama. Seperti istilah “agama cepat saji” dalam buku ini, Pria kelahiran tahun 1953 ini merasa heran pada orang yang tertarik dengan gerakan radikal dengan mempertaruhkan nyawanya. Misalnya, mereka bergabung dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria), dengan tawaran yang beracam-macam, meminjam istilahnya Marx yang banyak dikritik, mereka merasa kalah dengan gelombang kapitalisme dan modernisasi sehinnga mencari jalan lain yang terjangkau dan mudah diraih. Sebuah jalan pintas pada kehidupan yang bahagia di akhirat nanti, yaitu surga. Surga menjadi sebuah tawaran cepat saji. Yang diperlukan hanyalah keyakinan dan tentunya nyali. Hidup dan mati, keduanya adalah kemenangan.
Selain beragama, penulis buku ini juga mengiaskan “penjara” ini dengan apa yang disebutnya sebagai “penjara sosial”. Yaitu sebuah penjara nonfisik yang menghalangi orang untuk bergerak bebas, baik secara fisik (dhahir) maupun intelektual (bathin). Misal parpol, kata Komaruddin, bertujuan untuk mengemban tugas yang sangat mulia. Yaitu, mengabdikan kader-kadernya untuk rakyat lewat pemerintahan. Namun, ketika kadernya terlibat korupsi, menghuni penjara, sementara partainya hanya ribut melulu dari kongres ke kongres. Ini menjadikan parpol tidak lagi bertujuan baik, tetapi telah menjelma sebagai penjara tersendiri bagi kader-kadernya. Fanatisme dan kesetiaan eksklusif, meminjam istilah pria asal Magelang ini, terhadap asal etnis juga memenjarakan seseorang, menutupi dan menghalangi untuk bergaul lintas budaya dan agama.
Kemudian, bagian terakhir Profesor bidang psikologi ini menawarkan solusi dengan tajuk “meraih kebebasan”. Salah satunya dengan mengolah kekuatan ikhlas. Keikhlasan merupakan sumber kekuatan dan kebahagiaan hidup. Ikhlas adalah energi dan cahaya hati. Tanpa keikhlasan, daya hidup akan melemah dan dunia menjadi pengap. Yang muncul serbakekurangan, caci maki, dan selalu haus akan pengakuan dan pujian. Kedua, Penulis menyarakan untuk “membeli kebahagiaan”. Di dalam buku ini dinukil sebuah eksperimen penelitian tentang kebahagiaan oleh Richard Wiseman dalam bukunya, 59 Seconds, Think A Little, Change A Lot (2009). Di buku itu diceritakan perbedaan antara uang yang digunakan untuk membeli barang dengan uang yang dibelanjakan untuk “membeli pengalaman”. Hasilnya, mereka yang membeli pengalaman baru seperti berwisata, kesan kebahagiaannya lebih tinggi dan lebih lama. Sementara orang yang membeli barang, kebahagiaannya hanya berlangsung sebentar. Terlebih ketika melihat barang sejenis, produk mutakhir, maka kebanggaannya kian terkikis. Ini bukan berarti kita harus menghambur-hamburkan uang untuk travelling kemana-mana, tetapi membeli pengalaman adalah sebuah usaha untuk tidak menautkan diri kita pada barang-barang tertentu yang bukan berangkat dari kebutuhan, tapi lebih kepada keinginan. Tentunya pengalaman tidak harus mahal. Bisa dengan belajar, bagi sarjana untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Bagi kalangan profesional, bisa dengan mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan bidangnya masing-masing.
Memamg, survei yang dilakukan Richard Wiseman bisa benar dan bisa salah. Namun, kita bisa melihat sendiri dengan mengamati orang-orang sekitar kita. Kesimpulan dari buku Richard, jumlah uang yang sama, ketika dibelanjakan akan mendatangkan tingkat kebahagiaan dan kepuasan batin yang berbeda. Membeli pengalaman hidup yang baru lebih tiggi dan tahan lama tingkat kebahagiaannya ketimbang membeli barang yang bersifat sekunder atau konsumtif.
Terakhir, dalam hidup ini banyak kita jumpai jebakan, tipuan, ranjau dan godaan yang sulit dihindari. Pertanyaannya, siapa orang yang merdeka itu? Manusia yang terbebaskan tidak berarti lari menjauh dari dunia, lalu hanya dalam kesunyian dia menyembah Tuhanya, karena konsep pembebasan mengandung pesan dan agenda perjuangan. Orang-orang yang terbebaskan meurut Komaruddin Hidayat, adalah mereka yang tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang produktif, pribadi yang sehat lahir dan bathinnya. Pribadi yang bisa mengaktualkan potensinya sehingga bisa memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi sesama dan bagi diri sendiri. Wallahul Muwaffiq
Judul Buku :
Penjara-Penjara Kehidupan
Penulis :
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
Penyunting : Fajar
Kurnianto
Penyelaras aksara : Neni Suryani
Penata letak : Abd.
Wahab
Desain Sampul :
Noura Inhouse
Cetakan : I, Maret
2016
Tebal : 278
hlm.
*Sebuah Resensi
**Guru Sekolah Dasar
0 comments:
Post a Comment