Oleh: Raudlatul Fikri*
Prof. Dr. KH. Muhammad Tholhah Hasan adalah pakar
dalam bidang pendidikan Islam yang memiliki reputasi Internasional. Beliau
dilahirkan pada hari Sabtu Pon, 10 Oktober 1936 di Tuban Jawa Timur, dari
pasangan Tholhah dan Anis Fatma, sedangkan kakeknya bernama Hasan. Beliau
adalah anak pertama dari dua bersaudara, dan adik beliau bernama Afif Najih.
Sejak usia kanak-kanak beliau ditinggal oleh ayahnya untuk menghadap Sang
Khalik (wafat) kemudian beliau ikut kakek dan neneknya di Lamongan. Sejak saat
itu nama ayah dan kakeknya digunakan menjadi satu kesatuan dengan nama beliau
yang semula hanya Muhammad sehingga menjadi Muhammad Tholhah Hasan, yang
sekarang panggilan akrab beliau yaitu “Kiai Tholhah”. Masa lajangnya diakhiri
sejak beliau menjadi menantu KH. Masykur (mantan Menteri Agama Kabinet Amir
Syarifuddin dan Kabinet Ali Sastro Amijoyo dan Mantan ketua DPR-MPR Kabinet
Pembangunan III). KH. Muhammad Tholhah Hasan mulai saat itu didampingi seorang
istri bernama Hj. Solichah Noor (anak angkat KH. Masykur yang sebetulnya masih keponakannya
sendiri).[1]
Mantan Menteri Agama era Presiden Gus Dur ini
mempunyai segundang prestasi, utamanya dalam dunia pendidikan. Kiai Tholhah
sangat konsen pada bidang ini, Beliau banyak mendirikan lembaga ataupun sekolah
dengan basis Islam, di antaranya; ikut mendirikan MTs, MA, SD Islam, SMA Islam,
SMP Islam, TK, SMK Islam semuanya dalam satu naungan di bawah pengelolaan
Yayasan Pendidikan Al Ma’arif Singosari Malang, mendirikan TK, SD Islam, SMP
Islam, SMA Islam Sabilillah Malang yang pengelolaannya di bawah Yayasan
Sabilillah Malang (LPI Sabilillah) dengan sistem Full Day School dan
menjadi sekolah-sekolah favorit di Malang, dan lain-lain.[2]
Kiai yang juga santri Pondok Pesantren Tebuireng
(1956) ini juga banyak produktif menulis karya, diantaranya; Islam Dalam
Perspektif Sosio-Kultural, Prospek Islam dalam Menghadapi tantangan aman, Kado
untuk Tamu-Tamu Allah, Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia, Dinamika
Kehidupan Religius, Diskursus Islam Kontemporer, Ahlussunah wal Jama’ah Dalam
Persepsi dan Tradisi NU, Agama Moderat, Pesantren dan Terorisme, Apabila Iman
Tetap Bertahan, Pendidikan Islam Sebagai Uapaya Sadar Penyelamatan dan
Pengembangan Fitrah Manusia, Wawasan Umum Alhussunnah wal Jama’ah, Dinamika
Pemikiran Tentang Pendidikan Islam, Pendidikan Usia Dini Dalam Keluarga.[3]
Prestasi dan kiprah beliau yang begitu gemilang
tentu tidaklah didapat dengan mudah. Beliau bercerita, dulu ketika beliau masih
duduk di bangku sekolah dasar pernah diperlakukan berbeda dengan siswa-siswa
yang lain lantaran masalah ekonomi. Ceritanya, ketika itu Kiai Tholhah kecil
masih kelas 3 Sekolah Dasar. Sekolah mengadakan kunjungan wisata ke suatu
tempat dengan kompensasi siswa harus membayar uang dengan jumlah tertentu untuk
bisa ikut. Acara itu memakai kendaraan truck untuk mengangkut para siswa
ke tempat tujuan. “waktu itu saya tidak punya sejumlah uang itu, karena saya
termasuk dari keluarga yang tidak punya”, kata Kiai asal Tuban ini bercerita.
Karena keinginan Kiai Tholhah kecil yang sangat ingin ikut berwisata bersama
dengan teman-teman, beliau memberanikan diri untuk ikut naik di atas truck tanpa
membayar uang wisata. Namun kemudian ada salah satu guru yang naik ke atas truck
dan bertanya kepada seluruh siswa
siapa yang belum membayar wisata. Bagi yang belum membayar, tidak boleh ikut.
Dengan polosnya Kiai Tholhah kecil mengaku bahwa dirinya belum membayar. Tanpa
pikir panjang dan penjelasan ataupun pemahaman pada Kiai Tholhah kecil, guru
tersebut langsung menurunkan Kiai Tholhah kecil. Sontak Tholhah kecil menangis
sejadi-jadinya karena keinginannya untuk berwisata bersama teman-teman
sebayanya tidak tersampaikan.
Untung waktu itu ada nenek
Kiai Tholhah kecil, didekapnya anak itu erat-erat sampai jatuh pula peluh di
sudut matanya, tak kuasa ikut merasakan perasaan anak kecil miskin yang
dianaktirikan oleh seorang oknum guru. Wanita paruh baya itu membesarkan hati
Kiai Tholhah kecil agar bersabar karena semuanya akan digantikan oleh Allah
SWT. “Anda sekalian, sebisa mungkin jangan jadi seperti guru ini” kata Kiai
Tholhah kepada kami waktu itu yang mendengarkan cerita Beliau juga menambahkan,
menjadi seorang guru memang tidaklah mudah, tetapi keadilan dalam mendidik anak
itu sangat penting sekali untuk dilakukan. Adil bukan berarti sama banyak, adil
adalah memberikan sesuatu sesuai dengan porsinya masing-masing. Jangan karena
urusan ekonomi kemudian ada anak yang tidak bisa membayar diturunkan begitu
saja tanpa ada penjelasan apapun. Itu sangat menyakitkan.
Dengan latar belakang masa
kecil yang serba kekurangan itu tidak membuat Kiai Tholhah putus harapan dalam
urusan pendidikan. Dengan dukungan penuh dari keluarganya Kiai berumur 80 tahun
ini bisa melanjutkan pendidikan, bahkan sampai pada puncak karir akademis,
yaitu mampu meraih gelar Profesor di bidang pendidikan Islam.[4]
“Alhamdulillah, ternyata Allah benar-benar menggantinya, saya sudah pergi ke 5
benua di dunia, itu pun gratis, tanpa membayar uang sepeserpun”.[5]
Itu sepenggal cerita dari “Kiai
tanpa Pesantren” ini, setidaknya bisa kita ambil beberapa pelajaran dari kisah
ini. Pertama, hidup seberat apa pun itu adalah sebuah ujian bagi kita,
jika kita bisa mengarunginya maka kesuksesan yang akan kita raih. Tentunya ketika
dijalankan dengan niat yang tinggi untuk meraih cita-cita. Kedua, nasihat
untuk seorang guru, menjadi pendidik memang tidaklah mudah, terkadang ada saja
tingkah dan prilaku siswa/santri yang membuat seorang guru jengkel. Di situ, profesi
mulia ini diuji, kebijaksanaan dalam penanganan siswa menjadi sebuah tuntutan. Keadilan
seorang guru dalam perlakuan terhadap siswa/santri juga menjadi pertaruhan
pahlawan tanpa tanda jasa ini, tentunya adil bukan berarti harus sama, tetapi
proporsional. Wallahu A’lam
Malang, 10 Desember
2016
*Guru Sekolah Dasar
[1] Siska Ainin Jariyah, Kualitas Proses
Pendidikan Terhadap Tingkat Keberhasilan siswa (Surabaya: Makalah UIN SA,
2008). Hlm. 21
[2] M Tholhah Hasan, Ahlussunah wal-jama’ah
dalam persepsi dan tradisi NU (Jakarta: Penerbit Lantabora & Unisma
Press, 2015. Catatan Buku, Cetakan ke-6
[3] Ibid
[4] Guru Besar dalam Ilmu Pendidikan Islam, SK
Mendiknas RI Nomor 46129/A2.7/KP/2006. Tanggal 31 Juli 2006 di Jakarta.
[5] Cerita ini disampaikan pada Pembukaan HUT ke-20
Tahun Lembaga Pendidikan Islam Sabilillah Malang dan Tasyakuran Peringatan
Ulang Tahun ke-80 Prof. DR. KH. Muhammad Tholhah Hasan di SD Islam Sabilillah
Malang pada tanggal 10 Oktober 2016.

0 comments:
Post a Comment