Friday, 9 December 2016

Pesan Kiai Tholhah Hasan untuk Seorang Guru

Leave a Comment
Oleh: Raudlatul Fikri*

Prof. Dr. KH. Muhammad Tholhah Hasan adalah pakar dalam bidang pendidikan Islam yang memiliki reputasi Internasional. Beliau dilahirkan pada hari Sabtu Pon, 10 Oktober 1936 di Tuban Jawa Timur, dari pasangan Tholhah dan Anis Fatma, sedangkan kakeknya bernama Hasan. Beliau adalah anak pertama dari dua bersaudara, dan adik beliau bernama Afif Najih. Sejak usia kanak-kanak beliau ditinggal oleh ayahnya untuk menghadap Sang Khalik (wafat) kemudian beliau ikut kakek dan neneknya di Lamongan. Sejak saat itu nama ayah dan kakeknya digunakan menjadi satu kesatuan dengan nama beliau yang semula hanya Muhammad sehingga menjadi Muhammad Tholhah Hasan, yang sekarang panggilan akrab beliau yaitu “Kiai Tholhah”. Masa lajangnya diakhiri sejak beliau menjadi menantu KH. Masykur (mantan Menteri Agama Kabinet Amir Syarifuddin dan Kabinet Ali Sastro Amijoyo dan Mantan ketua DPR-MPR Kabinet Pembangunan III). KH. Muhammad Tholhah Hasan mulai saat itu didampingi seorang istri bernama Hj. Solichah Noor (anak angkat KH. Masykur yang sebetulnya masih keponakannya sendiri).[1]

Mantan Menteri Agama era Presiden Gus Dur ini mempunyai segundang prestasi, utamanya dalam dunia pendidikan. Kiai Tholhah sangat konsen pada bidang ini, Beliau banyak mendirikan lembaga ataupun sekolah dengan basis Islam, di antaranya; ikut mendirikan MTs, MA, SD Islam, SMA Islam, SMP Islam, TK, SMK Islam semuanya dalam satu naungan di bawah pengelolaan Yayasan Pendidikan Al Ma’arif Singosari Malang, mendirikan TK, SD Islam, SMP Islam, SMA Islam Sabilillah Malang yang pengelolaannya di bawah Yayasan Sabilillah Malang (LPI Sabilillah) dengan sistem Full Day School dan menjadi sekolah-sekolah favorit di Malang, dan lain-lain.[2]



Kiai yang juga santri Pondok Pesantren Tebuireng (1956) ini juga banyak produktif menulis karya, diantaranya; Islam Dalam Perspektif Sosio-Kultural, Prospek Islam dalam Menghadapi tantangan aman, Kado untuk Tamu-Tamu Allah, Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia, Dinamika Kehidupan Religius, Diskursus Islam Kontemporer, Ahlussunah wal Jama’ah Dalam Persepsi dan Tradisi NU, Agama Moderat, Pesantren dan Terorisme, Apabila Iman Tetap Bertahan, Pendidikan Islam Sebagai Uapaya Sadar Penyelamatan dan Pengembangan Fitrah Manusia, Wawasan Umum Alhussunnah wal Jama’ah, Dinamika Pemikiran Tentang Pendidikan Islam, Pendidikan Usia Dini Dalam Keluarga.[3]

Prestasi dan kiprah beliau yang begitu gemilang tentu tidaklah didapat dengan mudah. Beliau bercerita, dulu ketika beliau masih duduk di bangku sekolah dasar pernah diperlakukan berbeda dengan siswa-siswa yang lain lantaran masalah ekonomi. Ceritanya, ketika itu Kiai Tholhah kecil masih kelas 3 Sekolah Dasar. Sekolah mengadakan kunjungan wisata ke suatu tempat dengan kompensasi siswa harus membayar uang dengan jumlah tertentu untuk bisa ikut. Acara itu memakai kendaraan truck untuk mengangkut para siswa ke tempat tujuan. “waktu itu saya tidak punya sejumlah uang itu, karena saya termasuk dari keluarga yang tidak punya”, kata Kiai asal Tuban ini bercerita. Karena keinginan Kiai Tholhah kecil yang sangat ingin ikut berwisata bersama dengan teman-teman, beliau memberanikan diri untuk ikut naik di atas truck tanpa membayar uang wisata. Namun kemudian ada salah satu guru yang naik ke atas truck  dan bertanya kepada seluruh siswa siapa yang belum membayar wisata. Bagi yang belum membayar, tidak boleh ikut. Dengan polosnya Kiai Tholhah kecil mengaku bahwa dirinya belum membayar. Tanpa pikir panjang dan penjelasan ataupun pemahaman pada Kiai Tholhah kecil, guru tersebut langsung menurunkan Kiai Tholhah kecil. Sontak Tholhah kecil menangis sejadi-jadinya karena keinginannya untuk berwisata bersama teman-teman sebayanya tidak tersampaikan.

            Untung waktu itu ada nenek Kiai Tholhah kecil, didekapnya anak itu erat-erat sampai jatuh pula peluh di sudut matanya, tak kuasa ikut merasakan perasaan anak kecil miskin yang dianaktirikan oleh seorang oknum guru. Wanita paruh baya itu membesarkan hati Kiai Tholhah kecil agar bersabar karena semuanya akan digantikan oleh Allah SWT. “Anda sekalian, sebisa mungkin jangan jadi seperti guru ini” kata Kiai Tholhah kepada kami waktu itu yang mendengarkan cerita Beliau juga menambahkan, menjadi seorang guru memang tidaklah mudah, tetapi keadilan dalam mendidik anak itu sangat penting sekali untuk dilakukan. Adil bukan berarti sama banyak, adil adalah memberikan sesuatu sesuai dengan porsinya masing-masing. Jangan karena urusan ekonomi kemudian ada anak yang tidak bisa membayar diturunkan begitu saja tanpa ada penjelasan apapun. Itu sangat menyakitkan.

            Dengan latar belakang masa kecil yang serba kekurangan itu tidak membuat Kiai Tholhah putus harapan dalam urusan pendidikan. Dengan dukungan penuh dari keluarganya Kiai berumur 80 tahun ini bisa melanjutkan pendidikan, bahkan sampai pada puncak karir akademis, yaitu mampu meraih gelar Profesor di bidang pendidikan Islam.[4] “Alhamdulillah, ternyata Allah benar-benar menggantinya, saya sudah pergi ke 5 benua di dunia, itu pun gratis, tanpa membayar uang sepeserpun”.[5]

            Itu sepenggal cerita dari “Kiai tanpa Pesantren” ini, setidaknya bisa kita ambil beberapa pelajaran dari kisah ini. Pertama, hidup seberat apa pun itu adalah sebuah ujian bagi kita, jika kita bisa mengarunginya maka kesuksesan yang akan kita raih. Tentunya ketika dijalankan dengan niat yang tinggi untuk meraih cita-cita. Kedua, nasihat untuk seorang guru, menjadi pendidik memang tidaklah mudah, terkadang ada saja tingkah dan prilaku siswa/santri yang membuat seorang guru jengkel. Di situ, profesi mulia ini diuji, kebijaksanaan dalam penanganan siswa menjadi sebuah tuntutan. Keadilan seorang guru dalam perlakuan terhadap siswa/santri juga menjadi pertaruhan pahlawan tanpa tanda jasa ini, tentunya adil bukan berarti harus sama, tetapi proporsional. Wallahu A’lam

Malang, 10 Desember 2016
*Guru Sekolah Dasar



[1] Siska Ainin Jariyah, Kualitas Proses Pendidikan Terhadap Tingkat Keberhasilan siswa (Surabaya: Makalah UIN SA, 2008). Hlm. 21
[2] M Tholhah Hasan, Ahlussunah wal-jama’ah dalam persepsi dan tradisi NU (Jakarta: Penerbit Lantabora & Unisma Press, 2015. Catatan Buku, Cetakan ke-6
[3] Ibid
[4] Guru Besar dalam Ilmu Pendidikan Islam, SK Mendiknas RI Nomor 46129/A2.7/KP/2006. Tanggal 31 Juli 2006 di Jakarta.
[5] Cerita ini disampaikan pada Pembukaan HUT ke-20 Tahun Lembaga Pendidikan Islam Sabilillah Malang dan Tasyakuran Peringatan Ulang Tahun ke-80 Prof. DR. KH. Muhammad Tholhah Hasan di SD Islam Sabilillah Malang pada tanggal 10 Oktober 2016.
If You Enjoyed This, Take 5 Seconds To Share It

0 comments:

Post a Comment